Tentukan Diri Dengan Kesadaran Diri
Dimualai sejak kita bangun dari lelap kita, hingga kita kembali terlelap di malam hari, telah banyak hal yang sudah kita lakuakan. Apapun itu bentuknya, beribadah, bermain, bekerja, belajar, bernafas, atau lainnya. Tanpa kita sadari kita telah berjuang tuk menjaga diri kita tuk tetap hidup. Mungkin banyak hal sudah kita lewati, bahkan kita juga tak sanggup merinci apa saja yang telah kita lakukan mulai kita merasakan segar udara pagi, hingga anda membaca tulisan ini. Jika anda sanggup, berapa kali anda bernafas hingga kini?
Pertanyaan yang saya ajukan memang mengesalkan, tapi apapun respon anda terhadap pertanyaan itu, ada sebuah makna yang tak pernah kita pahami, yaitu kita hidup ternyata penuh dengan usaha. Contohnya, tulisan ini mungkin tidak mungkin pernah ada dihadapan anda jika jantung saya lupa bekerja selama lima detik saat saya menulis atau jika saya lalai tuk berusaha bernafas. Sungguh luar biasa ternyata makna berusaha dalam hidup. Namun, berusaha dalam hidup juga tidak akan berhasil tanpa suatu peran serta dari sekitar kita.
Kita sebagai manusia tuk hidup perlu orang lain apapun itu namanya, orang tua, teman, sahabat, pacar, dsb. Karena tanpa kehadiran orang lain kita juga tak dapat menjalankan hidup secara optimal. Sekarang coba anda pahami, berapa juta orang yang telah menghasilkan beragam pakaian yang anda miliki saat ini? Ribuan orang atau mungkin tak terbayangkan oleh anda? Lalu, bagaimana jika anda membuat seluruh pakaian anda tanpa ada bantuan orang lain sedikit pun? Sanggup anda menunggu pohon kapuk yang anda tanam berbuah sendiri?
Pada intinya, hidup harus dengan berusaha dan kebersamaan. Jika memang kita menginginkan sesuatu, sudah saatnya kita menghargai orang lain dan terus berusaha dengan tidak hidup “diatas tempat pembaringan”. Hidup takkan lama kita miliki jika kita tak mengolah pikir kita, tak mengolah rasa kita, dan tak mengolah raga kita, dan kesemuanya itu dapat kita lakukan dengan berusaha.
Janji manis, rayuan, dan kemudahan-kemudahan bukanlah motivasi kebaikan. Karena semua itu juga usaha orang lain dalam membujuk kita tuk kepuasan mereka. Sebaik kita memahami kebaikan orang lain kepada kita, akan menjaga kita tuk siap menghadapi kekecewaan. Jangan percaya pada sebuah janji tapi pikirkan mengapa mereka memberi janji dan mengapa janji itu yang mereka tawarkan. Jadilah orang bodoh yang penasaran dalam menerima atau memikirkan sesuatu, karena seorang yang bodoh akan membuat orang memberi banyak ilmu pada kita.
Kita lahir ke dunia sendiri tak membawa apapun, kita hingga bisa seperti sekarang karena usaha yang pernah kita lakukan kemarin, kita hidup bermasyarakat karena pengakuan diri atas diri kita, dan kita mati tak membawa materi-materi duniawi yang kita cintai. Jika kita mampu berusaha sendiri haruskah kita terus berpangku tangan dan menjadi suatu yang buruk jika kita mampu menghasilkan yang terbaik haruskah kita malu. Anda, rekan-rekan anda, saya, dan kita semua dibekali rasa, fikir, dan raga. Satukan tekad dan perkuat niat, kita bukan robot besi bernyawa.
Mari Kita Buktikan Bahwa Kita Hidup Dengan Berfikir
Chandra Putera Pradito

No comments:
Post a Comment