Bencana Itu Kawan Terbaik
Manusia dalam menjalankan kehidupan kadang kala melihat suatu fenomena kehidupan dengan menggunakan kemampuan meraba yang “sangat peka”. Berbeda pendapat dalam menjalankan penggambaran pun juga sering digambarkan dengan kemampuan yang menjadi mukjizat terpendam dalam dirinya. Tak heran kini manusia lebih senang melukiskan kehidupan sekitarnya hanya bermodalkan kemampuan dari langit pikiran logisnya.
Selama menjalankan kehidupan, kita sering kali melihat berbagai macam dinamika kehidupan yang berbeda dengan alur kehidupan yang kita harapkan. Suatu waktu yang kita lihat menguntungkan tiba-tiba bisa membuat kita terperosok dalam kehidupan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Namun, dalam suatu keadaan tertentu juga kita terkadang merasakan bahwa suatu hal yang buruk takmungkin kita hindari, tetapi semuanya dengan membalikkan telapak tangan apa yang kita hadapi dapat berubah dengan sekejap.
Anehkah hidup kita ini, dalam kegembiraan yang menghiasi langit biru kalbu, kita terkadang harus dan memang harus mau tersentak dalam kemurungan dan kesedihan yang memilukan hati. Kekalutan dan ketakberdayaan diri mengkungkung kalbu menerima semua kegagalan dan keputusasaan dlam meniti hidup masa depan. Begitulah mungkin penggambaran fenomena hidup bangsa ini.
Namun, apakah benar adanya kegoncangan diri dalam merasakan hidup itu merupakan sesuatu yang harfiah? Jika kita memang hidup dengan menggunakan ego mungkin kita akan menyalahkan siapa saja yang “bersalah”. Namun, jika kita mau berfikir bijak mungkin tak selamanya apa yang kita anggap salah, tidak benar salah adanya. Musibah datang memang datang tak terduga, bencana memang tak mengenal tempat dan waktu tuk bersinggah. Namun, haruskah hanya kepada mereka kita menuntut?
Negara kita ini memang bukanlah negara kurungan, bukan negara angan-angan, atau negara antah-berantah yang tak diketahui ujung ceritanya. Namun, satu hal yang pasti, negara kita ini adalah negara yang kokoh karena kebesaran masyarakat yang menghiasi setiap wilayahnya dengan keoptimisan bukan dengan keburuksangkaannya. Dulu, negara ini bangkit dari moncong senjata penjajah karena kesatuan dan kebersamaan, bangsa ini dahulu menunjukkan keperkasaan diri atas bulir-bulir padi yang berlimpah karena keuletan dan kegotong-royongan penduduknya, dalam perubahan negara kita juga menjunjung kesatuan dan kebulatan tekad yang tergambar dalam diri pemuda-pemuda yang berperhatian lebih atas nasib bangsanya, dan masih banyak lagi contoh kesatuandalam budaya bangsa ini.
Masyarakat berkata, “manusia akan diketahui kepribadian dirinya, jika bencana menerpa kehidupannya”. Kini, mari kita lihat fenomena kebencanaan yang ada di sekitar kita. Mulai dari gunung meletus di hulu hingga tsunami di hilir. Dari keadaan sekitar kita ini dapatkah kita melihat kepribadian asli manusia bangsa kita ini? Benarkah budaya tolong-menolong masih merasuki batin fitrah manusia, walau kita juga menjadi korban bencana tersebut? Benarkah kebersamaan masih kita kita junjung tinggi, walau lara terus merenggut kebahagiaan kita? Atau kita malah asik mengurusi diri kita sendiri saat bencana menghadapi kita, tanpa peduli sekeliling kita?
Bencana di Indonesia, walau telah meluluh-lantahkan kantong-kantong kehidupan duniawi manusia, sampai saat ini masih belum bisa menyadarkan dan mengembalikan kepribadian bangsa yang luhur. Sewaktu saya mengunjungi lokasi bencana lumpur panas, pt. Lapindo brantas, sebagai contoh, kesabaran masyarakat yang sedang di uji oleh alam menunjukkan keprihatinan yang mendalam. Keprihatinan itu tergamabar dalam diri sewaktu masyarakat kurang memiliki rasa kebersamaan dalam meniti hidup, sentak-sengor sering terjadi, sikut-menyikut dalam mencari penumpang objek penonton lumpur panas tiada henti memanaskan kolam lumpr yang telah panas.
Begitulah, fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Kita sebagai masyarakat yang tak terkena dampak langsung bencana diuji, seberapa besarkah respon kita kepada para saudara sebangsa kita. Dan kita yang mengalami langsung pergolakan alam yang menyadarkan diri ini, juga dituntut untuk mau melatih kesabaran diri dan responsif pada sekeliling kita.
Hidup ke dunia ini tidak ada yang menyuruh, telanjang adalah kondisi kita saat menapaki dunia, kita hidup di dunia takkan selamanya, dan kita meninggalkan dunia ini tanpa memendamkan seluruh kekayaan duniawi. Lalu, haruskah kita hidup selalu menuntut dan tergantung pada alam. Alam akan diam jika kita tak berusaha menggali dan alam akan murka jika kita tak ingat siapa sebenarnya kita ini. Bacalah semua yang terjadi, pahami semua yang melanda, dan gunakanlah fikir, rasa, dan raga kita untuk menunduk, bukan untuk mengorek sisi hidup orang lain.
Chandra Putera Pradito
Selama menjalankan kehidupan, kita sering kali melihat berbagai macam dinamika kehidupan yang berbeda dengan alur kehidupan yang kita harapkan. Suatu waktu yang kita lihat menguntungkan tiba-tiba bisa membuat kita terperosok dalam kehidupan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Namun, dalam suatu keadaan tertentu juga kita terkadang merasakan bahwa suatu hal yang buruk takmungkin kita hindari, tetapi semuanya dengan membalikkan telapak tangan apa yang kita hadapi dapat berubah dengan sekejap.
Anehkah hidup kita ini, dalam kegembiraan yang menghiasi langit biru kalbu, kita terkadang harus dan memang harus mau tersentak dalam kemurungan dan kesedihan yang memilukan hati. Kekalutan dan ketakberdayaan diri mengkungkung kalbu menerima semua kegagalan dan keputusasaan dlam meniti hidup masa depan. Begitulah mungkin penggambaran fenomena hidup bangsa ini.
Namun, apakah benar adanya kegoncangan diri dalam merasakan hidup itu merupakan sesuatu yang harfiah? Jika kita memang hidup dengan menggunakan ego mungkin kita akan menyalahkan siapa saja yang “bersalah”. Namun, jika kita mau berfikir bijak mungkin tak selamanya apa yang kita anggap salah, tidak benar salah adanya. Musibah datang memang datang tak terduga, bencana memang tak mengenal tempat dan waktu tuk bersinggah. Namun, haruskah hanya kepada mereka kita menuntut?
Negara kita ini memang bukanlah negara kurungan, bukan negara angan-angan, atau negara antah-berantah yang tak diketahui ujung ceritanya. Namun, satu hal yang pasti, negara kita ini adalah negara yang kokoh karena kebesaran masyarakat yang menghiasi setiap wilayahnya dengan keoptimisan bukan dengan keburuksangkaannya. Dulu, negara ini bangkit dari moncong senjata penjajah karena kesatuan dan kebersamaan, bangsa ini dahulu menunjukkan keperkasaan diri atas bulir-bulir padi yang berlimpah karena keuletan dan kegotong-royongan penduduknya, dalam perubahan negara kita juga menjunjung kesatuan dan kebulatan tekad yang tergambar dalam diri pemuda-pemuda yang berperhatian lebih atas nasib bangsanya, dan masih banyak lagi contoh kesatuandalam budaya bangsa ini.
Masyarakat berkata, “manusia akan diketahui kepribadian dirinya, jika bencana menerpa kehidupannya”. Kini, mari kita lihat fenomena kebencanaan yang ada di sekitar kita. Mulai dari gunung meletus di hulu hingga tsunami di hilir. Dari keadaan sekitar kita ini dapatkah kita melihat kepribadian asli manusia bangsa kita ini? Benarkah budaya tolong-menolong masih merasuki batin fitrah manusia, walau kita juga menjadi korban bencana tersebut? Benarkah kebersamaan masih kita kita junjung tinggi, walau lara terus merenggut kebahagiaan kita? Atau kita malah asik mengurusi diri kita sendiri saat bencana menghadapi kita, tanpa peduli sekeliling kita?
Bencana di Indonesia, walau telah meluluh-lantahkan kantong-kantong kehidupan duniawi manusia, sampai saat ini masih belum bisa menyadarkan dan mengembalikan kepribadian bangsa yang luhur. Sewaktu saya mengunjungi lokasi bencana lumpur panas, pt. Lapindo brantas, sebagai contoh, kesabaran masyarakat yang sedang di uji oleh alam menunjukkan keprihatinan yang mendalam. Keprihatinan itu tergamabar dalam diri sewaktu masyarakat kurang memiliki rasa kebersamaan dalam meniti hidup, sentak-sengor sering terjadi, sikut-menyikut dalam mencari penumpang objek penonton lumpur panas tiada henti memanaskan kolam lumpr yang telah panas.
Begitulah, fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Kita sebagai masyarakat yang tak terkena dampak langsung bencana diuji, seberapa besarkah respon kita kepada para saudara sebangsa kita. Dan kita yang mengalami langsung pergolakan alam yang menyadarkan diri ini, juga dituntut untuk mau melatih kesabaran diri dan responsif pada sekeliling kita.
Hidup ke dunia ini tidak ada yang menyuruh, telanjang adalah kondisi kita saat menapaki dunia, kita hidup di dunia takkan selamanya, dan kita meninggalkan dunia ini tanpa memendamkan seluruh kekayaan duniawi. Lalu, haruskah kita hidup selalu menuntut dan tergantung pada alam. Alam akan diam jika kita tak berusaha menggali dan alam akan murka jika kita tak ingat siapa sebenarnya kita ini. Bacalah semua yang terjadi, pahami semua yang melanda, dan gunakanlah fikir, rasa, dan raga kita untuk menunduk, bukan untuk mengorek sisi hidup orang lain.
“bola sepak, ada kalanya masuk ke gawang dan keluar lapangan, dilapangan memiliki waktu pasti, bergulir, melayang, dan menerjang selalu dilakuakan. Kini samakah hidup kita dengan bola”
Chandra Putera Pradito

No comments:
Post a Comment