Melihat Bukan Untuk Mencaci
Kehidupan manusia tak pernah kita ketahui alur perjalanannya. Manusia hidup selalu berjalan tak sekedar lurus, berbelok, atau menyerong. Tapi kadang kala manusia juga harus menukik dan menanjak di medan berat tak terduga. Namun, seberat apapun dan semudah apapun manusia meniti kihidupan, manusia pasti butuh kehadiran seorang teman. Karena kondisi hidup manusia takkan dapat menepis kebutuhan lahiriah manusia yang selalu membutuhkan kehadiran manusia lainnya.
Deskripsi tentag kebutuhan akan teman di atas bukanlah suatu kata-kata indah yang tak berisi, tapi jika pahami secara mendalam deskripsi singkat itu mengingatkan kita, bahwa kita dalam hidup selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Orang lain dalam deskripsi diatas juga kita pahami sebagai teman kita berbagi suka dan bahkan memberikan derita yang kita miliki.
Sungguh besar peran manusia atau orang lain dalam hidup kita ini ternyata. Dalam suka kita butuh mereka tuk berbagi cerita atas apa yang telah kita dapatkan atau kita capai. Dan mereka terkadang juga kita jadikan “tempat sampah” bagi seluruh derita dan asa yang kita rasakan. Dan anehnya, mereka terkadang tak menolak atau menghindar jika memperlakukannya dengan buruk.
Mungkin tatkala anda mendengar pendeskripsian diatas anda mempertanyakan penggambaran diatas atau dengan tegas anda berkata “itu tak berlaku dalam diri saya”. Apapu komentar yang mucul dalam diri anda saya hanya dapat menerima itu semua dengan lapang dada. Dan saya juga harus sadar bahwa manusia itu memiliki ego, fikir, dan harga diri.
Diri Dan Harga Diri
Manusia dalam mensuri hidup sebagaimana di deskripsikan diatas selalu membutuhkan orang lain untuk mendampingi dirinya. Namun, kini coba anda bayangkan, anda hidup di dunia ini seorang diri dan anda harus memenuhi kebutuhan hidup anda hanya dengan mengandalkan kemampuan yang anda miliki? Mampukah anda bertahan hidup seperti itu.
Jika anda merasa tidak mampu, lalu bagaimana rasa anda berterima kasih atas segala kemudahan yang anda rasakan seperti sekarang ini. Jika anada berkata “saya akan mengucap syukur kepada tuhan atas rejeki yang dia berikan”. Namun cukupkah hanya dengan itu saja? Bagaimana dengan orang-orang disekitar anda yang telah memberika semua kemudahan yang anda terima saat ini?
Terkadang kita memang lupa atas kehadiran orang-orang disekitar kita. Kita kadang tak mau berucap terima kasih, berkata maaf, atau memberikan senyum sebagai bentuk perhatain seribu kata. Kita kadang juga tak memahami betapa penting peran mereka, orang-orang yang telah membantu kita atau menolong kita, yang mungkin pada suatu kesempatan semua mereka lakukan tanpa sepengatuhan kita, dan kita hanya mencaci dan menghina setiap perbuatan yang telah mereka lakukan. Ini bukan cerita sinetron, bukan cerita roman film, atau suatu penggalan penyayat hati, tapi ini gambaran keseharian kita yang tak pernah menghargai orang-orang disekeliling kita.
Manusia bisa menjadi binatang, tapi binatang tak bisa menjadi manusia. Pikirkan, dalam suatu artikel Koran di Amerika, seorang istri telah membunuh suaminya ketika akan tidur dan suami yang terbunuh merupakan seorang bisnisman sukses. Artikel ini tak sekali atau dua kali saja muncul di headline Koran Amerika. Penyebab utamanya dalam kasus ini adalah para suami yang seharian bekerja telah lelah ketika mendapatkan waktu tidurnya, tak heran mereka dapat tidur lebih cepat terlelap disbanding para istri yang tinggal di rumah. Dan kronisnya, disaat waktu akan tidur para istri senang melakukan percakaan ringan dengan para suaminya. Namun, begitu para istri tahu bahwa suaminya terlelap, maka para istri beranggapan bahwa suaminya tak menghargai dirinya lagi dan tak heran para istri langsung membunuhnya saat itu juga.
Gambaran lain mengenai harga diri adalah seorang siswa SMU di Amerika di perolok oleh teman-teman sekolahnya karena dia tidak mau merampok dan merusak suatu bengkel, karena si siswa memiliki gigi tonggos. Bosan mendengar cacian dan hinaan dari teman-temannya tersebut suatu saat siswa ini mengagendakan suatu rencana pembalasan, dan benar, dia melakukan perusakan suatu bengkel seorang diri tanpa seorang teman pun. Saat tertangkap dia hanya tersenyum seraya berkata “lihat, si tonggos beraksi dan ingat saya tak seperti apa yang kalian perolokkan”. Semua cerita diatas adalah suatu cerita tentang pentingnya menghargai diri orang lain. Dan semua cerita diatas telah terjadi di tahun 1982 tepatnya di Amerika (Giblin, 1988).
Dari cerita diatas kini, kita telah mendapat suatu gambaran besar akan suatu kekuatan penghargaan diri. Less giblin (1988), seorang pakar hubungan antar manusia pun juga menulis bahwa “jika harga diri redah, maka pertikaian puna akan terjadi”. Pernyataan ini kedepan dengan rumus HDR/PT, suatu rumus penghargaan diri dengan dasar bahwa manusia itu perlu suatu pengakuan dan haus akan ego bukan penjatuhan diri.
Mungkin, anda setengah hati menerima rumus HDR/PT diatas. Tapi sekarang coba ande keluar dari ruangan anda saat ini, menuju ke jalan raya, dan caci-makilah orang yang pertama kali anda temui disana. Pasti akan ada efek yang membuat psikologis anda sakit dari orang yang anda maki tersebut. Toh, kalau orang yang anda caci itu sabar, mungkin dia kan berkata “anda gila ya?”.
Hargai Orang Lain, Jika Kita Ingin Dihargai
Dalam proses hidup kita tak pernah tahu sampai kapan system kehidupan ini mengahirinya, karena kita tak tahu sampai kapan kita bernafas dan indra kita berfungsi. Namun, selama kita hidup, kita pasti akan membutuhkan seorang teman yang selalu mengisi hari-hari kita. Manusia memang berbeda satu sama lain, manusia memang meiliki ego, dan manusia memang dibekali akal fikiran. Namun haruskah perbedaan dan kemampuan yang kita miliki lantas menjadi boomerang karena kita selalu memaksa ego kita demi kepuasan pribadi kita.
Kepuasan Yang Utama, Muncul Saat Kita Tak Berdosa
Chandra Putera Pradito

No comments:
Post a Comment