Sunday, October 18, 2009

BENTOEL I Love The Blue Of Indonesia

he kind's of indoneian great commercial in 90... bentoel biru - i love the blue of indonesia.... The Greatest of Indonesia

100% CINTA INDONESIA

Bangkit Negeriku, Hijaulah Khatulistiwaku, Ku Bangga Bernafas Di Negeri Khatulistiwa Yang Berbineka

BATIK

UNESCO designated Indonesian batik, as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity on October 2, 2009.In return of the acknowledgment, UNESCO demanded Indonesia to preserve their heritage (WIKIPEDIA)

Wednesday, October 10, 2007

AKU TIDAK MENCARI SURGA, APA LAGI NERAKA, TAPI AKU MENCARI BELAIAN SAYANG DARI TUHAN KU

Ada banyak hal yang telah terjadi dunia ini. Silih berganti antara kabaikan dan keburukan menhgisi relung kehidupan manusia tiada habisnya. Manusia bukanlah segalnya di dunia ini. Manusia hanya rongga pengisi relung yang tak diketahui sampai kapan kan hidup dan mengisi kosmos kehidupan. Apa yang telah terjadi di dunia ini nyata dan telah terjadi. Dan itu adalah cerminan hidup manusia yang tiada sampai kapan berajut.

Dunia ini luas, dunia ini indah, dan dunia ini beraneka. Namun, dunia ini adalah suatu ujian kebatinan dalam menjalani nokhta kehidupan selanjutnya. Kehidupan tak berhenti hingga nanti saat kita sadar akan kehidupan kita terdampar dalam kefanaan hikayat manusia dalam berdunia. Semua indah, semua sama, hanya kita yang membedakannya karena ego dan panca indra yang memanipulasi laku dan tingkah.

Hidup bukan suatu pilihan, hidup bukan juga keengganan dan kemalasan. Tapi hidup adalah takdir illahi yang harus kita syukuri dan kita jalankan sebagaimana alur yang dibuat takdir. Tiada yang salah di dunia ini dan tak selamanya semua benar. Karena kebenaran dan kesalahan yang menghiasi dunia ini adalah ilmu illahi yang berpesan aneka makna.

Manusia bukan suatu jasat hidup yang berbangkai nanti. Manusia adalah makna kehidupan sebelum kosmos kehidupan kasih yang suci hadir. Dan bangkai hanyalah wadah yang dapat meleleh bagai botol air. Selama bangkai dan manusia menyatu keikhlasan hamba laksana umat yang berilmu dan beribadah selayaknya tidak membuang waktu dalam melangkah atau menjejaki hidup sebelum ia pergi dan meninggalkan tempat yang sedemikian kotor oleh hawa dunia.

Dunia beragam, manusia berilmu, memilih pilihan yang beragam membentuk citra manusia selayaknya hamba sahaya yang berbakti kepada penciptanya. Semua itu adalah pilihan, tapi takdirnya adalah iman dan ketulusan dalam membentuk kosmos selalu hadir dan dirasakan dalam diri manusia.

Dia ada dalam diri kita, Dia hadir dalam pergolakan waktu kehidupan kita, dan Dia menuntun kita ke jalan-Nya. Namun, manusia kini masih belum bisa memahami makna kehadiran-Nya. Suatu kefanaan dalam kosmos kefitrahannya sebagai manusia. Kita yang berbuat, kita yang menjalankan. Itu bukan pilihan tapi takdir illahi yang selalu harus kita jalankan.

Dunia ini paradoks, baik buruk relatif. Hanya ada satu hal yang pasti dan kekal, yaitu putusan-Nya dalam ayat suci dan sunnah yang merincikannya. Kita tak perlu mencari karena Ia telah datang dalam diri kita. Kita tak perlu berdebat dalam memilih karena Ia memberi kita akal yang seharusnya kita gunakan tuk mengetahui kebesarannya dan mencernanya sebagai iman atas keutuhan-Nya dalam laju kehidupan kita di dunia yang berpeluh ini.

Jangan bersalah dan mempersalahkan, tapi pikirkan mengapa akal kita berpendapat demikian. Hati adalah sukma illahi yang dibangun-Nya dengan kekuatan dan keutamaan-Nya. Manusia bukah corong umpatan dan harapan. Manusia adalah kodrat illahi yang bersemayam bersama di lubuk sanubari hamba-Nya. Ikhalas berjalan bersamanya mencapai keridhoan bukan surga dan neraka. Surga dan neraka adalah cipta-Nya. Kita pun juga cipta-Nya. Lalu mengapa kita tidak mengharapkan-Nya ada bersama kita.

Selama kita beregois mencari surga dan kenikmatan dari-Nya kita tetaplah si egois, petamak, dan penjilat. Karena ketidakikhlasan kita, selayaknya kita mempersembahkan sesuatu tanpa pamrih dan ikhlas padanya, demi rasa sayang kita sebagai hambanya yang ingin selalu disayangi, dicintai dan dalam pelukkan hangat cintanya.

(Renungan hari terakhir Ramadhan 1428H)

CHANDRA PUTERA

Saturday, May 12, 2007

Dave Koz - You Make Me Smile

keteduhan hati dalam memaknai kesah hidup takkan pernah hilang, walau kita mencari kemanapun. karena keteduhan hati adalah saat ketenangan jiwa jujur merasakan kehidupan yang kita dapati. jujurlah pada nurani bukan materi!

Monday, March 19, 2007

Bencana Itu Kawan Terbaik

Manusia dalam menjalankan kehidupan kadang kala melihat suatu fenomena kehidupan dengan menggunakan kemampuan meraba yang “sangat peka”. Berbeda pendapat dalam menjalankan penggambaran pun juga sering digambarkan dengan kemampuan yang menjadi mukjizat terpendam dalam dirinya. Tak heran kini manusia lebih senang melukiskan kehidupan sekitarnya hanya bermodalkan kemampuan dari langit pikiran logisnya.

Selama menjalankan kehidupan, kita sering kali melihat berbagai macam dinamika kehidupan yang berbeda dengan alur kehidupan yang kita harapkan. Suatu waktu yang kita lihat menguntungkan tiba-tiba bisa membuat kita terperosok dalam kehidupan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Namun, dalam suatu keadaan tertentu juga kita terkadang merasakan bahwa suatu hal yang buruk takmungkin kita hindari, tetapi semuanya dengan membalikkan telapak tangan apa yang kita hadapi dapat berubah dengan sekejap.

Anehkah hidup kita ini, dalam kegembiraan yang menghiasi langit biru kalbu, kita terkadang harus dan memang harus mau tersentak dalam kemurungan dan kesedihan yang memilukan hati. Kekalutan dan ketakberdayaan diri mengkungkung kalbu menerima semua kegagalan dan keputusasaan dlam meniti hidup masa depan. Begitulah mungkin penggambaran fenomena hidup bangsa ini.

Namun, apakah benar adanya kegoncangan diri dalam merasakan hidup itu merupakan sesuatu yang harfiah? Jika kita memang hidup dengan menggunakan ego mungkin kita akan menyalahkan siapa saja yang “bersalah”. Namun, jika kita mau berfikir bijak mungkin tak selamanya apa yang kita anggap salah, tidak benar salah adanya. Musibah datang memang datang tak terduga, bencana memang tak mengenal tempat dan waktu tuk bersinggah. Namun, haruskah hanya kepada mereka kita menuntut?

Negara kita ini memang bukanlah negara kurungan, bukan negara angan-angan, atau negara antah-berantah yang tak diketahui ujung ceritanya. Namun, satu hal yang pasti, negara kita ini adalah negara yang kokoh karena kebesaran masyarakat yang menghiasi setiap wilayahnya dengan keoptimisan bukan dengan keburuksangkaannya. Dulu, negara ini bangkit dari moncong senjata penjajah karena kesatuan dan kebersamaan, bangsa ini dahulu menunjukkan keperkasaan diri atas bulir-bulir padi yang berlimpah karena keuletan dan kegotong-royongan penduduknya, dalam perubahan negara kita juga menjunjung kesatuan dan kebulatan tekad yang tergambar dalam diri pemuda-pemuda yang berperhatian lebih atas nasib bangsanya, dan masih banyak lagi contoh kesatuandalam budaya bangsa ini.

Masyarakat berkata, “manusia akan diketahui kepribadian dirinya, jika bencana menerpa kehidupannya”. Kini, mari kita lihat fenomena kebencanaan yang ada di sekitar kita. Mulai dari gunung meletus di hulu hingga tsunami di hilir. Dari keadaan sekitar kita ini dapatkah kita melihat kepribadian asli manusia bangsa kita ini? Benarkah budaya tolong-menolong masih merasuki batin fitrah manusia, walau kita juga menjadi korban bencana tersebut? Benarkah kebersamaan masih kita kita junjung tinggi, walau lara terus merenggut kebahagiaan kita? Atau kita malah asik mengurusi diri kita sendiri saat bencana menghadapi kita, tanpa peduli sekeliling kita?

Bencana di Indonesia, walau telah meluluh-lantahkan kantong-kantong kehidupan duniawi manusia, sampai saat ini masih belum bisa menyadarkan dan mengembalikan kepribadian bangsa yang luhur. Sewaktu saya mengunjungi lokasi bencana lumpur panas, pt. Lapindo brantas, sebagai contoh, kesabaran masyarakat yang sedang di uji oleh alam menunjukkan keprihatinan yang mendalam. Keprihatinan itu tergamabar dalam diri sewaktu masyarakat kurang memiliki rasa kebersamaan dalam meniti hidup, sentak-sengor sering terjadi, sikut-menyikut dalam mencari penumpang objek penonton lumpur panas tiada henti memanaskan kolam lumpr yang telah panas.

Begitulah, fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Kita sebagai masyarakat yang tak terkena dampak langsung bencana diuji, seberapa besarkah respon kita kepada para saudara sebangsa kita. Dan kita yang mengalami langsung pergolakan alam yang menyadarkan diri ini, juga dituntut untuk mau melatih kesabaran diri dan responsif pada sekeliling kita.

Hidup ke dunia ini tidak ada yang menyuruh, telanjang adalah kondisi kita saat menapaki dunia, kita hidup di dunia takkan selamanya, dan kita meninggalkan dunia ini tanpa memendamkan seluruh kekayaan duniawi. Lalu, haruskah kita hidup selalu menuntut dan tergantung pada alam. Alam akan diam jika kita tak berusaha menggali dan alam akan murka jika kita tak ingat siapa sebenarnya kita ini. Bacalah semua yang terjadi, pahami semua yang melanda, dan gunakanlah fikir, rasa, dan raga kita untuk menunduk, bukan untuk mengorek sisi hidup orang lain.

“bola sepak, ada kalanya masuk ke gawang dan keluar lapangan, dilapangan memiliki waktu pasti, bergulir, melayang, dan menerjang selalu dilakuakan. Kini samakah hidup kita dengan bola”

              
                          
                                                                                                            Chandra Putera Pradito

Friday, March 16, 2007

Tentukan Diri Dengan Kesadaran Diri

Dimualai sejak kita bangun dari lelap kita, hingga kita kembali terlelap di malam hari, telah banyak hal yang sudah kita lakuakan. Apapun itu bentuknya, beribadah, bermain, bekerja, belajar, bernafas, atau lainnya. Tanpa kita sadari kita telah berjuang tuk menjaga diri kita tuk tetap hidup. Mungkin banyak hal sudah kita lewati, bahkan kita juga tak sanggup merinci apa saja yang telah kita lakukan mulai kita merasakan segar udara pagi, hingga anda membaca tulisan ini. Jika anda sanggup, berapa kali anda bernafas hingga kini?

Pertanyaan yang saya ajukan memang mengesalkan, tapi apapun respon anda terhadap pertanyaan itu, ada sebuah makna yang tak pernah kita pahami, yaitu kita hidup ternyata penuh dengan usaha. Contohnya, tulisan ini mungkin tidak mungkin pernah ada dihadapan anda jika jantung saya lupa bekerja selama lima detik saat saya menulis atau jika saya lalai tuk berusaha bernafas. Sungguh luar biasa ternyata makna berusaha dalam hidup. Namun, berusaha dalam hidup juga tidak akan berhasil tanpa suatu peran serta dari sekitar kita.

Kita sebagai manusia tuk hidup perlu orang lain apapun itu namanya, orang tua, teman, sahabat, pacar, dsb. Karena tanpa kehadiran orang lain kita juga tak dapat menjalankan hidup secara optimal. Sekarang coba anda pahami, berapa juta orang yang telah menghasilkan beragam pakaian yang anda miliki saat ini? Ribuan orang atau mungkin tak terbayangkan oleh anda? Lalu, bagaimana jika anda membuat seluruh pakaian anda tanpa ada bantuan orang lain sedikit pun? Sanggup anda menunggu pohon kapuk yang anda tanam berbuah sendiri?

Pada intinya, hidup harus dengan berusaha dan kebersamaan. Jika memang kita menginginkan sesuatu, sudah saatnya kita menghargai orang lain dan terus berusaha dengan tidak hidup “diatas tempat pembaringan”. Hidup takkan lama kita miliki jika kita tak mengolah pikir kita, tak mengolah rasa kita, dan tak mengolah raga kita, dan kesemuanya itu dapat kita lakukan dengan berusaha.

Janji manis, rayuan, dan kemudahan-kemudahan bukanlah motivasi kebaikan. Karena semua itu juga usaha orang lain dalam membujuk kita tuk kepuasan mereka. Sebaik kita memahami kebaikan orang lain kepada kita, akan menjaga kita tuk siap menghadapi kekecewaan. Jangan percaya pada sebuah janji tapi pikirkan mengapa mereka memberi janji dan mengapa janji itu yang mereka tawarkan. Jadilah orang bodoh yang penasaran dalam menerima atau memikirkan sesuatu, karena seorang yang bodoh akan membuat orang memberi banyak ilmu pada kita.

Kita lahir ke dunia sendiri tak membawa apapun, kita hingga bisa seperti sekarang karena usaha yang pernah kita lakukan kemarin, kita hidup bermasyarakat karena pengakuan diri atas diri kita, dan kita mati tak membawa materi-materi duniawi yang kita cintai. Jika kita mampu berusaha sendiri haruskah kita terus berpangku tangan dan menjadi suatu yang buruk jika kita mampu menghasilkan yang terbaik haruskah kita malu. Anda, rekan-rekan anda, saya, dan kita semua dibekali rasa, fikir, dan raga. Satukan tekad dan perkuat niat, kita bukan robot besi bernyawa.

Mari Kita Buktikan Bahwa Kita Hidup Dengan Berfikir


Chandra Putera Pradito