Wednesday, October 10, 2007

AKU TIDAK MENCARI SURGA, APA LAGI NERAKA, TAPI AKU MENCARI BELAIAN SAYANG DARI TUHAN KU

Ada banyak hal yang telah terjadi dunia ini. Silih berganti antara kabaikan dan keburukan menhgisi relung kehidupan manusia tiada habisnya. Manusia bukanlah segalnya di dunia ini. Manusia hanya rongga pengisi relung yang tak diketahui sampai kapan kan hidup dan mengisi kosmos kehidupan. Apa yang telah terjadi di dunia ini nyata dan telah terjadi. Dan itu adalah cerminan hidup manusia yang tiada sampai kapan berajut.

Dunia ini luas, dunia ini indah, dan dunia ini beraneka. Namun, dunia ini adalah suatu ujian kebatinan dalam menjalani nokhta kehidupan selanjutnya. Kehidupan tak berhenti hingga nanti saat kita sadar akan kehidupan kita terdampar dalam kefanaan hikayat manusia dalam berdunia. Semua indah, semua sama, hanya kita yang membedakannya karena ego dan panca indra yang memanipulasi laku dan tingkah.

Hidup bukan suatu pilihan, hidup bukan juga keengganan dan kemalasan. Tapi hidup adalah takdir illahi yang harus kita syukuri dan kita jalankan sebagaimana alur yang dibuat takdir. Tiada yang salah di dunia ini dan tak selamanya semua benar. Karena kebenaran dan kesalahan yang menghiasi dunia ini adalah ilmu illahi yang berpesan aneka makna.

Manusia bukan suatu jasat hidup yang berbangkai nanti. Manusia adalah makna kehidupan sebelum kosmos kehidupan kasih yang suci hadir. Dan bangkai hanyalah wadah yang dapat meleleh bagai botol air. Selama bangkai dan manusia menyatu keikhlasan hamba laksana umat yang berilmu dan beribadah selayaknya tidak membuang waktu dalam melangkah atau menjejaki hidup sebelum ia pergi dan meninggalkan tempat yang sedemikian kotor oleh hawa dunia.

Dunia beragam, manusia berilmu, memilih pilihan yang beragam membentuk citra manusia selayaknya hamba sahaya yang berbakti kepada penciptanya. Semua itu adalah pilihan, tapi takdirnya adalah iman dan ketulusan dalam membentuk kosmos selalu hadir dan dirasakan dalam diri manusia.

Dia ada dalam diri kita, Dia hadir dalam pergolakan waktu kehidupan kita, dan Dia menuntun kita ke jalan-Nya. Namun, manusia kini masih belum bisa memahami makna kehadiran-Nya. Suatu kefanaan dalam kosmos kefitrahannya sebagai manusia. Kita yang berbuat, kita yang menjalankan. Itu bukan pilihan tapi takdir illahi yang selalu harus kita jalankan.

Dunia ini paradoks, baik buruk relatif. Hanya ada satu hal yang pasti dan kekal, yaitu putusan-Nya dalam ayat suci dan sunnah yang merincikannya. Kita tak perlu mencari karena Ia telah datang dalam diri kita. Kita tak perlu berdebat dalam memilih karena Ia memberi kita akal yang seharusnya kita gunakan tuk mengetahui kebesarannya dan mencernanya sebagai iman atas keutuhan-Nya dalam laju kehidupan kita di dunia yang berpeluh ini.

Jangan bersalah dan mempersalahkan, tapi pikirkan mengapa akal kita berpendapat demikian. Hati adalah sukma illahi yang dibangun-Nya dengan kekuatan dan keutamaan-Nya. Manusia bukah corong umpatan dan harapan. Manusia adalah kodrat illahi yang bersemayam bersama di lubuk sanubari hamba-Nya. Ikhalas berjalan bersamanya mencapai keridhoan bukan surga dan neraka. Surga dan neraka adalah cipta-Nya. Kita pun juga cipta-Nya. Lalu mengapa kita tidak mengharapkan-Nya ada bersama kita.

Selama kita beregois mencari surga dan kenikmatan dari-Nya kita tetaplah si egois, petamak, dan penjilat. Karena ketidakikhlasan kita, selayaknya kita mempersembahkan sesuatu tanpa pamrih dan ikhlas padanya, demi rasa sayang kita sebagai hambanya yang ingin selalu disayangi, dicintai dan dalam pelukkan hangat cintanya.

(Renungan hari terakhir Ramadhan 1428H)

CHANDRA PUTERA

No comments: